Kamis, 29 Mei 2008

Sebagai Obat

Dalam dunia kesehatan, keberadaan pisang mampu menyulut harapan. Tentang ini, tidak cuma diakui ilmuwan sekarang, bahkan sejak zaman baheula. Masyarakat cina kuno ekstrak akar pisang untuk mengobati penyakit kuning, sakit kepala hingga cacar air. Sementara di Filipina, daun pisang muda yang masih bergulung seperti paying, sering di gunakan kaum wanitanya sebagai pelindung wajah dari sengatan matahari.

Untuk luka iris ~seperti sayatan atau lecet~ bonggol pisang bisa dijadikan alternatef. Apabila bonggol yang telah di bersihkan secukupnya, tumbuk, dan tempelkan pada luka. Bagi atlet atau pekerja berat, dianjurkan mengkonsumsi pisang dan segelas air kalu takut terkena kram otot. Buah ini diyakini bisa mencegah gangguan tersebut. Selain itu, kalau ingin memiliki kulit halus berseri, sering – sering mengkonsumsi pisang ambon lumut.

Rabu, 28 Mei 2008

Menulis bisa menyehatkan ?!

“Menulis lebih baik ketimbang operasi pengencangan kulit wajah”.

Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit kamu akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa! Dari saat kamu bangun tidur, menulis meningkatkan aktifitas sel. Dengan coretan pertama diatas kertas kosong, kantung dibawah mata akan segera lenyap, dan kulit kamu akan terasa segar kembali.

“Menulis memberikan pelepasan emosional yang membangkitkan rasa puas dan lega”. Menulis menjernihkan pikiran dan mengatasi trauma, menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan lebih positif, dan kesehatan fisik yang lebih baik.

Tambah dikuliti, semakin seksi

Ada beragam alasan orang tega “memperkosa” pisang, lantaran buahnya panjang melengkung dan sering dijadikan santapan penutup makan. Daunnya, selain dipakai pincuk (bungkus) juga bisa menjelma sebagi paying ~pilihan kepepet disaat hujan menghadang satu karena batangnya~.yang di samping baik bagi tumbuh kembangnya lumbicus rubellus, dapat juga dimanfaatkan jadi rakit buat penyelamat manakala banjir datang menjelang.

Biasa karena kelihaian lainnya yang amat diluar sugaan, yaitu pelengkap ritual resesi budaya. Mulai perkawinan sampai kematian, dari sekadar susuguhan bagi Dewi Sri hingga persembahan buah Nyi Roro Kidul; ”penggembira” sebuah pentas kesenian ~Paling tidak~ kang Asep Sunandar Sunarya, dalang beken dari tarar duanda, sering menancapkan wayang – wayangnya pada batng pisang saat pertunjukan atau yang lebih dari itu.

Padahal, barangkali cukup semenel kalimat saja untuk melukiskan kehebatanya “tambah dikuliti semakin seksi”.

Selasa, 27 Mei 2008

Wajah jadi ceria

Cahaya dan keceriaan yang datang karena menahan mata ini bisa terlihat di mata, wajah, dan seluruh anggota tubuh. Tapi bagi para pengumbar pandangan, kepekatan akan terlihat di wajah dan seluruh anggota tubuhnya.

Orang yang senag mengumbar pandangan, akan mengisi hari dengan lamunan. Dia terus akan membayangkan apa yang telah dipandangnya. Nah, kalau udah begini paling asyik bagi dia adalah duduk merenung sendirian. Mari dech kita resapin syair yang satu ini,

“selagai pandangan matamu berkilauan, segala pandangan kan membebani hati, kau pandang segala sesusatu diluar kemampuan sebagai lain tidak kesabaran lagi”